Agenda PP IPM Bulan Mei-Juli 2009

Gerakan Iqra’

ip, jLatar Belakang
Ikatan Remaja Muhammadiyah yang merupakan gerakan yang berbasis pelajar dan remaja memiliki tanggungjawab untuk membentuk, menyemai dan memupuk minat membaca di kalangan remaja dan pelajar Muhammadiyah. Hal ini diwujudkan dalam satu gerakan yang sistematis yaitu gerakan Iqro’.

Gerakan Iqro’ jelas dilandasi oleh spirit al-Quran dan hadits yang jelas tersurat dalam Q.S Al Alaq, al-Qalam, dan masih banyak lagi. Membaca telah ditegaskan sebagai kewajiban untuk menyempurnakan kewajiban lainnya. Membaca sebagai media untuk beramal secara cerdas dan shahih. Quraish Shihab dalam tafsirnya al Misbah mengartikan Iqro’ tidak hanya membaca teks atau membaca alfavabet akan tetapi meliputi kegiatan memahami, membaca secara mendalam, dan juga meneliti (riset) untuk memahami suatu persoalan dan menemukan jawabannya.

Kedepan peranan pelajar diharapkan memperkuat peranan yang meliputi pertama, mampu mengantisipasi pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memberi tamparan hebat kepada perilaku sosial masyarakat yang cenderung menganut budaya instan dan pop hedonis sehingga diperlukan upaya counter kebudayaan dan salah satunya yang penting untuk itu adalah membudayakan membaca atau memasyarakan membaca dan membacakan masyarakat. Kedua, pelajar sebagai pelopor membangun gerakan budaya gemar membaca di sekolah dan masyarakat. Pelajar membangun identitas sebagai peminat bacaan untuk menjawab persoalan serius betapa rendahnya minat baca pelajar Indonesia (hanya membaca buku pelajaran).

Dari penelitian yang pernah dilakukan Taufiq Ismail (2003) misalnya kita bisa merenungkan betapa minimnya minat dan tradisi membaca di Indonesia yang hanya 0 judul dan apabila kita tengok minat baca SMA di beberapa negara yang mewajibkan bacaan yaitu di SMA Thailand Selatan 5 judul, Malaysia 6 judul, Singapura 6 judul, Brunei Darussalam 7 judul, Rusia 12 judul, Kanada 13 judul, Jepang 15 judul, Swiss 15 judul, Jerman Barat 22 judul, Perancis 30 judul, Belanda 30 judul, Amerika Serikat 32 judul.

Maka tidak mengherankan pada tahun 2006, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan masyarakat Indonesia belum menempatkan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Penduduk Indonesia lebih memilih menonton TV (85,9 persen) dan mendengarkan radio (40,3 persen) daripada membaca suratkabar (23,5 persen).

Rendahnya budaya baca dan tulis juga dapat dilihat dari produksi buku di Indonesia yang masih sangat rendah. Setiap tahun Indonesia yang berpenduduk lebih dari 220 juta jiwa hanya memproduksi 10.000 judul buku dengan jumlah setiap judul mencapai 3.000 eksemplar. Sebagian bangsa kita terbiasa dengan budaya lisan dan tutur. Hal ini menunjukkan daya serap informasi yang sangat terbatas hanya dari informasi lisan/pendengaran. Jauh bila dibandingkan dengan pengetahuan yang didapat dari aktivitas membaca. Oleh karena itu, bangsa yang maju lebih berorientasi pada budaya tulis dibandingkan dengan budaya tutur dan lisan.

Gerakan Iqra’ di lingkungan IRM sudah berusia hampir 6 tahun usianya, sebagai refleksi, gerakan ini belum berjalan dengan optimal. Banyak kendala dan hambatan ditemukan, di antaranya adalah lemahnya kesadaran kader secara personal dan budaya membaca masih sangat rendah. Selain itu, dalam konteks yang lebih luas adalah paradigma masyarakat dan pemerintah yang belum menempatkan aktivitas membaca sebagai kegiatan pokok dalam pendidikan dan penagajaran. Orientasi hasil dan bukan proses menjadi ciri khas pendidikan di Indonesia. Ketidakseriusan ini bisa dilihat dari sedikitnya jumlah perpstakaan yang memadai yaitu 95% dari jumlah sekolah dasar yang jumlahnya mencapai 200.000 unit belum mempunyai perpustakaan. Progammer for Internastionale Student Assesment (PISA) tahun 2003, yang meneliti 40 negara menempatkan Indonesia paling rendah dalam kemampuan membaca.

Di tengah pergulatan globalisasi dan modernitas, pilihan Gerakan Iqra’ dalam tubuh IRM/IPM menjadi sangat signifikan dan relevan. Sudah seharusnya gerakan membangun budaya membaca tidak hanya dirumuskan hanya menjadi harapan, karena keberhasilan bukan untuk orang yang hanya berharap, akan tetapi sejauh mana diusahakan dan diperjuangkan dengan penuh kesungguhan, keuletan, dan ikhtiar sekuat tenaga.

Nama Agenda Aksi
Gerakan iqra

Pengertian
Gerakan Iqra adalah gerakan membangun budaya membaca dan menulis untuk kader dan basis massa di dalam Ikatan Pelajar Muhammadiyah.

Orientasi
Membangun Gerakan Budaya memnbaca yang mencerminkan nilai-nilai intelektualitas dan keilmuan di kalangan pelajar Muhammadiyah.

Tujuan
1.    Mewujudkan pelajar Muhammadiyah yang mempunyai kesadaran terhadap pentingnya budaya membaca dan menulis
2.    Menciptakan wadah untuk mengapresiasi potensi dan minat pelajar dalam bidang keilmuwan dan tulis menulis.
3.    Mewujudkan kader Ikatan yang memiliki kepekaan dan tradisi berfikir kritis terhadap realitas yang ditopang oleh basis ilmu pengetahuan dan intelektualitas.
4.    Mengembangkan dan meningkatkan berbagai ragam minat dan potensi kader Ikatan sehingga terwujud kader-kader yang kompeten dalam berbagai bidang Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi.

Target
1.    Pemerintah mengeluarkan kebijakan yang mendukungya  budaya Membaca
2.    Timbul kesadaran minat baca di kalangan Pelajar dan masyarakat.
3.    Terpenuhinya fasilitas yang berupa bahan bacaan, perpustakaan yang memadai untuk membangun budaya membaca
4.    Terbentuknya perpustakaan komunitas disetiap level pimpinan.
5.    Terwujudnya budaya membaca sebagai identitas kader dan anggota di tubuh Ikatan Pelajar Muhammadiyah.

Problematika
1.    Kurangnya fasilitas untuk membudayakan Iqra
2.    Suplai buku yang tidak merata dan tidak akomodatif
3.    Fasilitas kurang memadai yang disebabkan harha buku mahal
4.    Kesadaran membaca rendah
5.    Membaca hanya sebatas hobi bukan kebutuhan
6.    faktor lingkungan yang kurang mendukung baik di rumah, sekolah atau di Masyarakat

Agenda Aksi :
1.    Pembiasaan membaca Buku sebagai aktivitas wajib bagi setiap kader untuk membaca buku atau karya tulisa lainnya misalnya untuk kader tingkat ranting selama seminggu harus membaca minimal 2 buku dan mempu menceritakan. Syarat membaca buku dan mereview juga bias diterapkan sebagai syarat jenjang kepemimpinan misalnya calon pimpinan wilayah harus sudah membaca buku judul tertentu.
2.    Menggembirakan Media Massa pelajar melakukan aktivitas dengan menciptakan media massa untuk kampanye gerakan membaca juga turut berpartisipasi dalam mengisi ruang-ruang media massa yang telah ada baik media cetak maupun elektronik.
3.    Kajian berkala sebagai ruang tukar-menukar pengetahuan dari penulis buku, teman sebagai pembelajaran untuk berani mengungkapkan pikiran. Kajian berkalan bias dilakukan bulanan atau mingguan dengan tema tertentu.
4.    Arisan tulisan dapat dilakukan secara berkala di lingkungan pimpinan dengan ketentuan tema-tema yang disepakati (aktual). Kegiatan ini bisa dilakukan diawal rapat atau pertemuan non formal misalnya di taman, di warung kecil dan tempat-tempat lainnya.
5.    Menyelenggarakan Pelatihan untuk merangsang motivasi kader dalam hal tulis-baca seperti, pelatihan jurnalistik, pelatihan pendamping pers sekolah, TOT untuk pembina IRM, pelatihan menulis cerpen/novel, kursus bahasa asing, pelatihan debat, pelatihan metode penelitian dan lain sebagainya.
6.    Menciptakan Aktifitas Aplikatif untuk menyalurkan kemampuan dan ketrampilan dari hasil pelatihan atau baca-tulis kader, dengan mengikutsertakan kader dalam setiap lomba penulisan karya tulis ilmiah, popular, lomba cerpen, lomba membuat blog/website,  atau dalam agenda lomba debat konstruktif antar sekolah.
7.    Membentuk Komunitas kreatif  untuk mengaktualisasikan potensi kader seperti kelompok-kelompok ilmiah pelajar (KIP), komunitas liqo’ buku, Kelompok pecinta Cerpen (KPC), Kelompok pecinta puisi/ sastra dan sebagainya.
8.    Mengadakan Aktivitas Bedah Buku untuk merangsang minat membaca dan mengapresiasi suatu karya tulis dan memberikan penilain yang kritis terhadap buku. Cara membaca yang baik adalah mendiskusikan apa yang telah dibaca.
9.    Melakukan aktifitas rekreatif dengan mengajak pelajar ke tempat-tempat yang benuansa imajinatif, terkesan santai tapi serius, seperti berkunjung ke pusat-pusat perbukuan, toko buku, perpustakaan komunitas, silaturahmi tokoh, wisata baca. Selain itu aktivitas rekreatif dimaksudkan untuk menciptakan karya tulis tertentu dengan melakukan wawancara kepada komunitas, membaca alam, dan lain-sebagainnya.
10.    Mempengaruhi Kebijakan Pemerintah untuk memberikan akses akan bacaan yang memadai melalui anggaran pemerintah untuk belanja buku, subsidi buku untuk pelajar kurang mampu, membangun perpustakaan komunitas maupun perpustakaan umum.
11.    Mencanangkan dan sosialisasi kepada pelajar akan pentingnya gerakan membaca melalui berbagai pendekatan ( Kampanye Baca, Seminar budaya baca dan  Pelatihan-pelatihan untuk gerakan membaca )
12.    Mencanangkan hari membaca Nasional sebagai manifesto pelajar transformatif untuk gerakan yang lebih luas dan membasis. Gerakan Hari Membaca Nasional juga sebagai bukti kesungguhan gerakan untuk melakukan aksi propoganda.
13.    Dan lain-lain

Peserta
Peserta atau sebagai target gerakan adalah basis massa IRM (ranting) dan juga kader di semua tingkatan baik ranting, cabang, daerah. Wilayah dan pimpinan pusat.

Ruang Lingkup
Lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Stake Holder :
a)    IRM/IPM
b)    Pelajar
c)    Sekolah
d)    Keluarga
e)    Masyrakat
f)    Pemerintah (Diknas, DPR/DPRD)
g)    Muhammadiyah (Dikdasmen)

Operasional/Pelaksanaan :
1.    Pimpinan Ranting. Melaksanakan berbagai kegiatan yang mampu memberikan wadah dan apresiasi terhadap minat pelajar dan anggotanya.
2.    Pimpinan Cabang. Selain memberikan wadah untuk mengapresiasi potensi anggota lintas ranting, Cabang juga dharapkan mampu membentuk komunitas-komunitas yang mencerminkan potensi dan minat pelajar dalam hal baca dan tulis-menulis. Selain itu, cabang memfasilitasi kegiatan ranting kepada daerah.
3.    Pimpinan Daerah. Pimpinan Daerah dapat mengemas kegiatan ranting dalam format yang lebih kreatif, inovatif, lebih luas, tidak terbatas pada sekolah Muhammadiyah sehingga kiprah dalam rangka membangun gerakan budaya membaca dapat diterima secara lebih luas dan memasyarakat. Daerah juga memfasilitasi pengembangan bakat dan minat anggota lebih luas untuk diapresiasi atau kompetisi.
4.    Pimpinan Wilayah. Pimpinan Wilayah memfasilitasi daerah untuk membentuk jejaring dengan lembaga lain, mengartikulasikan keputusan-keputusan di itngkat nasional untuk membangun gerakan budaya di daerah, cabang, dan ranting.
5.    Pimpinan Pusat. Pimpinan Pusat menyusun konsep gerakan bersama wilayah dan daerah yang berorientasi kepada kondisi obyektif di basis massa sebagai upaya mencarin solusi terkait rendahnya minat baca pelajar Indonesia. Pimpinan pusat melakukan propoganda gerakan di berbagai media massa Nasional untuk memberikan stimulus di wilayah/daerah dan juga membentuk jejaring yang kuat dilevel nasional untuk gerakan budaya baca.

Indikator Keberhasilan
Keberhasilan gerakan membangun budaya membaca dapat dilihat dari dua hal yang saling mendukung.
Pertama, dalam ruang kesadaran. Hal ini diketahui dari pola berfikir yang transformatif yaitu masyarakat mulai meyakini bahwa aktivitas membaca mampu memberikan pencerahan, membuka cakrawala pengetahuan, dan mampu mengentaskan kebodohan, atau yang lebih pragmatis meyakini bahwa tanpa membaca pendidikan tidak berarti apa-apa. Masyarakat kemudian menempatkan kegiatan membaca sebagai salah satu kegiatan  yang tidak terpisahka dalam kehidupan sehari-hari. Pelajar menempatkan aktivitas membaca sebagai kegiatan pokok, bukan sambilan atau hiburan.
Kedua, dalam perilaku. Perilaku sangat dipengaruhi oleh kesadaran seseorang. Apabila dalam pikirannya meyakini bahwa membaca akan membuat orang lebih pintar, lebih terbuka, dan sebagainya maka seseorang tersebut akan berusaha mencapainya. Perilaku yang mencerminkan kesadaran membaca dapat diukur dari jumlah perpustakaan komunitas yang terbentuk, frekuensi buku yang dibaca, jenis bacaan, lama membaca, jumlah karya tulis, dan kemampuan menyampaikan apa yang sudah dibaca serta kemampuan menghisilkan karya-karya baru yang muncul akibat proses membaca/proses belajar yang intensif dan tekun.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s