Juli 2009


Logo_MuhammadiyahYogyakarta – Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kamis (23/07/2009) melalui Maklumat Nomor : 06/MLM/I.0/E/2009 mengumumkan penetapan tanggal 1  Ramadhan 1430 H berterpatan dengan hari Sabtu Pahing, tanggal 22 Agustus 2009. Menurut keterangan yang menyertai maklumat tersebut, penentuan tersebut sesuai hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Di dalam maklumat tersebut dinyatakan  bahwa ijtimak menjelang Ramadhan 1430 H terjadi pada hari Kamis Kliwon tanggal 20 Agustus 2009 M pukul 17:02:48 WIB. Data astronomis yang menjadi dasar penentuan tersebut adalah tinggi hilal pada saat terbenam Matahari di Yogyakarta ( f = -07° 48¢ dan l = 110° 21¢ BT ) = -01° 10¢ 20² (hilal belum wujud) dan di seluruh wilayah Indonesia pada saat Matahari terbenam Hilal di bawah ufuk.

Idul Fitri dan Idul Adha 1430 H

ramadhnDalam maklumat tersebut, PP Muhammadiyah juga menyertakan Tausiyah Ramadhan yang salah satunya mengingatkan agar bulan Ramadhan ini dijadikan momentum untuk mempertautkan kembali hati yang mungkin selama Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden telah terjadi perbedaan pendapat dan pilihan sehingga menimbulkan keretakan hati.

Selain penetapan 1 Ramadhan, Maklumat tersebut juga memuat penetapan 1 syawwal 1430 H  jatuh pada hari Ahad Legi tanggal 20 September 2009 , dan ‘Idul Adha (10 Dzulhijjah 1430 H) jatuh pada hari Jum’at Wage tanggal 27 Nopember 2009 M. (Arif)

PDF E-mail
peduli-aidsJombang – Perkembangan kasus HIV-AIDS di Kabupaten Jombang kian mencemaskan. Data Jombang Care Center (JCC) menyebutkan, hingga Desember 2008 tercatat sudah 120 orang yang terdeteksi mengidap HIV-AIDS.
Atas kondisi tersebut, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) menempatkan Kabupaten Jombang pada urutan ke 3 setelah Surabaya dan Malang dengan jumlah pengidap HIV-AIDS terbanyak se Jawa Timur.

Manager Program JCC, Gomar F Gimon, mengatakan penularan HIV-AIDS di wilayah Jombang terjadi dengan sangat pesat terutama pada remaja usia produktif serta pekerja seks komersial. “Yang rentan penularan penyakit mematikan itu adalah pengguna narkoba jarum suntik yang didominasi oleh remaja usia produktif serta pelanggan pekerja seks dan pasangannya,” katanya, Kamis (15/1) siang.

Gomar menambahkan, pihaknya selaku lembaga penanggulangan penularan HIV-AIDS di wilayah Jombang sudah berusaha mengantisipasi dan menekan angka korban korban yang tertular virus HIV-AIDS. Namun, upaya yang dilakukan masih menemui banyak kendala. “Kendala yang dihadapi diantaranya pengendalian infeksi yang lemah, baik tenaga medis, anggaran, maupun kebijakan yang tidak mendukung upaya memutus mata rantai HIV/AIDS,” Ungkap pria yang akrab disapa Igo ini. (Violine)

Written by Eka Rimawati “suara warga.info

peduli-aidsBandung (ANTARA News) – Rendahnya pengetahuan masyarakat terkait penularan dan pencegahan virus Human Immuno Deficiency Virus (HIV) Acquired Immuno Deficiency Syndrome) AIDS, menjadikan Indonesia sebagai negara tercepat dalam penularan HIV/AIDS di Asia.

Yudhi F Oktaviadhi, penulis buku Syair Untuk Sahabat mengatakan hal itu dalam acara bedah buku Syair Untuk Sahabat dan kampanye AIDS di Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) Yapari ABA, akhir pekan.

Dikatakan, informasi berupa poster dan Iklan Layanan Masyarakat (ILM) mengenai HIV, masih belum cukup efektif untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat.

Banyak yang salah menangkap pesan dalam poster atau ILM tentang AIDS, terutama para remaja.

Menyadari minimnya informasi yang bisa diperoleh mengenai AIDS, Yudhi yang juga merupakan jurnalis tabloid Bola, mencoba berpartisipasi dengan menulis buku Syair Untuk Sahabat, yang berisi tentang kisah-kisah nyata kehidupan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) yang dikumpulkan sejak 2003.
Sebelumnya banyak buku mengenai AIDS tetapi tidak mudah dipahami, karena dalam bentuk cerita dan dengan cara pendekatan yang berbeda, buku ini jadi lebih mudah dipahami.

Dikatakan Yudhi, diharapkan masyarakat bisa memahami apa itu AIDS, sehingga tidak keliru dalam meyikapi AIDS, minimal untuk diri sendiri dan orang-orang disekitar.

Hal yang dijauhi itu virusnya, bukan orangnya, tidak masalah jika hanya bersalaman atau bersentuhan karena hampir 90% ODHA disingkirkan oleh keluarganya sendiri dan tidak diterima di Rumah Sakit (RS).

Juga dibutuhkan ODHA bukan hanya obat penunda kematian, tetapi juga perhatian dan dukungan dari keluarga dan kerabat terdekat. Pengucilan hanya akan mempercapat kematian ODHA karena merasa tertekan, depresi dan tidak diterima.

Dikatakan Yudhi, kematian akibat HIV AIDS, umumnya akibat terlambat diagnosis karena masyarakat Indonesia tidak sadar bahwa virus AIDS bisa menjangkit pada siapapun meski tidak melakukan hubungan seksual, narkoba dan mengkonsumsi alkohol.

Namun jika mengkonsumsi drugs secara bersama-sama resikonya lebih besar.

Orang yang melakukan drugs bersama-sama, dalam waktu tiga atau empat tahun kemudian, 99 persen dapat lebih muda terkena AIDS.

Masih menurut Yudhi, hubungan seksual dengan sesama laki?laki, sangat berisiko dalam penularan AIDS karena dapat menimbulkan luka dan darah yang menjadi media untuk memudahkan penularan.

Hubungan sesama jenis menjadi penyebab utama penularan HIV AIDS di Amerika.(*)

Pelajar Tidak Sekedar Menjadi Obyek Kebijakan dan Kepentingan

Friday, 10 July 2009 13:29

YU Pelatihan Advokasi Dini (PADI) PW IPM Jateng Purwokertp, Jawa Tengah – Bupati Kabupaten Banyumas, H. Mardjoko, M.M, mengungkapkan dalam era kehidupan yang semakin demokratis dan terbuka saat ini, dibutuhkan adanya pemahaman yang komprehensif dari seluruh warga negara mengenai hak dan kewajibannya dalam lingkup kehidupan bernegara. Salah satu aspek kehidupan bernegara adalah aspek hukum. Pemahaman masyarakat tentang hukum akan turut memberi jaminan atas keberhasilan penegakkan supremasi hukum sebagai bagian dari komitmen bangsa di era demokrasi untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang lebih baik. Hal tersebut disampaikan beliau dalam pembukaan Pelatihan Advokasi Dini (PADI) yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Jawa Tengah, Kamis, 9 Juli 2009 di Panti Asuhan Putra Muhammadiyah Purwokerto. Beliau mengungkapkan pelajar sebagai bagian dari unsur pemuda yang merupakan elemen masyarakat yang penting dan strategis harus mendapat perharian. Pelajar perlu dibekali dengan pemahaman tentang aspek hukum, khususnya yang berhubungan dengan aktifitas pokoknya, yaitu dalam hal pendidikan. “Dengan pemahaman yang baik mengenai aspek hukum khususnya dalam lingkup dunia pendidikan, pelajar diharapkan mampu berperan lebih dalam kehidupan berbangsa, tidak sekedar menjadi obyek kebijakan dan kepentingan, tetapi bisa berperan aktif dan memberikan kontribusi positif dalam proses pembangunan, dengan tetap berpijak pada landasan hak dan kewajiban yang dimilikinya dalam koridor tata hukum yang berlaku”, tutur beliau dalam sambutan tertulisnya yang disampaikan oleh Sekretaris Daerah Pemerintah Kabupaten Banyumas, H. Santoso, S.H, M.A.

Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Jawa Tengah, Muhammad Dwi Fakhrudin, mengungkapkan gerakan advokasi di Ikatan Pelajar Muhammadiyah dimulai sejak Muktamar XII Ikatan Pelajar Muhammadiyah tahun 2000 di Jakarta. Gerakan tersebut muncul atas inisiatif kondisi krisis yang sedang melanda bangsa Indonesia dan untuk melindungi hak-hak kaum pelajar dan remaja, sehingga kaum pelajar dan remaja bukan menjadi kaum mustad’afiin yang menjadi obyek kebijakan pemerintah. Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Banyumas, H. Muhson, S. Ag, menuturkan harapannya agar dari pelatihan advokasi dini tersebut akan muncul advokat-advokat yang bermartabat dan berakhlakul karimah.